3 Oktober 2011

1 Badai Di Ujung Negeri [2011]


Badai (Arifin Putra) adalah seorang marinir yang ditugaskan menjaga pos perbatasan Indonesia di sebuah pulau di Laut Cina Selatan. Pada suatu hari ditemukan mayat perempuan yang membuat geger warga setempat. Hingga pandangan skeptis mereka terhadap tentara yang seringkali dianggap nggak penting, semakin menjadi. Peristiwa tersebut mempertemukan Badai dengan Joko (Yama Carlos), sahabat lama yang bertugas di kapal KRI. Sebagai sahabat, hubungan mereka tidaklah seakrab dulu karena suatu peristiwa di masa lalu.

Kehebohan kembali terjadi setelah ditemukan satu mayat anak kecil yang akhirnya membuat Badai merasa harus secepatnya bertindak sebelum ada korban selanjutnya, meski masalah cintanya dengan Anissa (Astrid Tiar) juga tengah mengalami cobaan. Berdasar petunjuk yang ditemukan pada tubuh mayat terakhir, Badai melakukan penyelidikan di pulau Bawah tanpa melapor pada atasannya, Lektkol Zein (Adrian Alim). Dari situlah terkuak bahwa sedang terjadi konspirasi yang dilakukan oleh oknum tertentu.

Badai Di Ujung Negeri merupakan film terbaru arahan Agung Sentausa setelah cukup lama absen pasca membidani Garasi pada tahun 2006 silam. Lalu bagaimanakah konklusi akhir debut produksi Quanta Pictures yang bujetnya lumayan wow ini?

Dari segi akting nggak ada yang terlalu gimana. Yang jelas jauh dari kata mengecewakan. Arifin Putra tetap berakting sebagai pria dewasa sekaku dalam filmnya yang rilis pada bulan Mei berjudul Batas. Astrid Tiar yang memulai debut layar lebar dan Yama Carlos yang sudah banyak wara-wiri di berbagai judul film, tampil terlampau biasa. Namun akting Jojon rupanya mampu menjadi highlite tersendiri. Dimana dia begitu mumpuni melepas bayang-bayang sebagai komedian dan berakting serius sebagai sosok villain bernama Piter. Meski sebenarnya agak susah juga bagi kita untuk melupakan gimik yang sudah melekat erat pada pelawak bernama asli Djuri Masdjan itu.

Dari segi cerita, nasib film ini sejalan dengan Simfoni Luar Biasa. Terlalu banyak plot hole. Dan lagi-lagi, penulis naskahnya, Ari M. Syarief, tidak mau susah-susah untuk menjelaskan. Di dukung oleh penyutradaraan Agung Sentausa yang terbilang matang namun malah keasyikan menyajikan gambar-gambar cantik dengan bantuan sinematografer sekelas Padri Nadeak. Emang sih kerja mereka menampilkan sisi ekostik pulau Tanjung Pinang, dibalut dengan tone yang lembut dan tenang, membuat mata gue begitu terpesona. Apalagi pas adegan yang mengharuskan syuting di bawah air. Dua kata: speechless dan keren. Tapi tetep aja dibikin galau kalau kecantikan yang mereka sajikan tanpa dibarengi tendensi yang jelas.

Contoh kecil yang paling ganggu nih: apa alasan Anissa di culik oleh komplotan pembajak kapal tanker? Kalau jawaban untuk diselamatkan oleh Badai, salah besar! Karena Badai sendiri sedang sibuk dengan penyelidikannya di pulau Bawah. Disini terlihat ada penekanan seolah-olah Anissa penting banget harus di culik. Badai Di Ujung Negeri bukan film yang diangkat dari komik Marvel kan? Yang mana tokoh utama harus bertindak bak superhero kesiangan dan harus menyelamatkan sang kekasih? Seenggaknya kalo memang mau dibuat seperti itu, harus ada penjelasan yang lebih masuk akal dong.

Belum lagi eksekusi action dan adegan akhir terlihat kurang matang aja. Entah kenapa pada bagian ini gue merasa anti klimaks. Mungkin karena nurut sama kode etik bla-bla-bla, adegan di tengah laut itu terlihat kering kerontang dan nggak bernyawa. Ibarat lagi mau nyalain petasan, eh tiba-tiba apinya mati. Kecewa banget kan? Beruntung masih ada Thoersi Argeswara yang sekali lagi bikin gue merinding dengan tata musiknya setelah trilogi Merah Putih.

At least, meski hasilnya masih jauh dari kata sempurna, gue nggak sungkan untuk ngacungin empat jempol buat debut produksi Quanta Pictures yang sudah berani mengambil konsekuensi ditengah percaturan film nasional dengan ide yang nggak pernah berkembang dari tema yang ini lagi-ini lagi tanpa perubahan berarti. Jelas, butuh keberanian besar membuat film dengan tujuan menentang tren. Dan nggak salah jika apresiasi lebih patut kita berikan.

1 komentar :

  1. Sayangnya, film2 seperti ini pasti sepi penonton

    BalasHapus